Air Mata Hari Ini

2 comments
Halo sobat. Apa kabar? Baik-baik aja kan? Masih mau baca tulisan di blogku gak ni? Hehehe. Saya hanya ingin menceritakan apa yang saya alami hari ini. Bacalah kalau ada waktu sempat *enggakkk adaaa, Ndut*.

Walau kantuk mulai merambati, saya tetap berusaha membuat tulisan ini. Jadi maaf sajalah kalau agak jelek *emangnya pernah nulis tulisan bagus?*, sedikit dan tak terarah.

Untuk Nadia
Wanita yang lagi galau tingkat tinggi dan akut. Semoga terhibur membaca tulisan ini. Terima kasih. Cepat move up ya J

Jadi gini, ceritanya hari ini, saya diajak temen saya yang lagi galau tingkat tinggi, Nadia, pergi ke suatu tempat yang katanya tak boleh ada yang tahu setelah mengerjakan General Test secara berjama’ah. Pikiran saya melayang jauh ke tempat antah berantah dan sebuah imajinasi jelek merambati otak saya *emang situ punya otak?*. berkatalah otak saya bahwa saya akan dimakan Nadia!. Oh, tidak!. Keringat dingin mulai menjalari tubuh saya dan membayangkan tubuh saya dimutilasi dan tangan saya dimakan Nadia. Oke, saya tahu itu lebay dan garing #okesip.

Nah, setelah saya dan teman-teman saya mengerjakan General Test secara berjama’ah dengan bantuan Guru Besar Robbi, pukul 16.00 WIB saya dan Nadia berangkat ke tempat yang akan dituju. Karena langit sore terlihat gelap dan hujan turun secara tidak konsisten, kadang hujan kadang terang, kami ragu-ragu untuk berangkat. Namun karena keinginan sang wanita galau yang kuat, akhirnya kami berangkat menembus hujan. Yeah, hujan-hujanan!. Selama di perjalanan saya memikirkan kejadian terburuk!. Dimakan!. Salip kanan salip kiri, pelan cepat, berhenti jalan (Jogja sekarang udah macet, Bro.) kamipun sampai di TKP. Saya lupa namanya, kalau tidak salah “Yayasan Sayap Ibu” *tenane?| yo ra ngerti sih*.

Tempat apa ini? kok ada kata-kata ibu dan anak? Apa si Nadia …….

Itulah yang saya pikirkan selama memasuki ruangan demi ruangan di gedung yayasan ini. dan semua pertanyaan-pertanyaan dan pikiran buruk yang saling silih berganti memenuhi otak saya hilang, Bagai awan gelap yang hilang setelah terkena cahaya matahari *lebay, Ndut*, setelah melihat banyak anak kecil yang kaget di kasur mereka saat melihat seseorang tinggi besar masuk.

Ini manusia apa genderuwo?
Mungkin itulah yang dipikirkan mereka.


Aje gile, anak siapa ini? banyak banget! Kok ada disini? Apa ini yayasan buat anak berkebutuhan khusus?

Yep, kaget juga melihat anak-anak ini, pertanyaan-pertanyaan liar mulai menyelimuti otak saya dan tanpa saya sadari, Nadia sudah menggendong salah satu anak, mungkin lebih tepat di sebut bayi, dengan sifat yang jarang saya lihat selama di kampus. Sifat keibu-ibuan!. Ajegile nih Nadia. Gak mungkin kan itu dia? Sangar beet!. Masih dalam keadaan shock dan heran, Nadia menyuruh saya mencuci tangan dan menggendong salah satu anak. Saya kira, anak-anak tersebut takut dengan kehadiran saya, tapi entah mengapa mereka justru tersenyum dan tertawa saat saya menghampiri mereka. Akhirnya saya menggendong salah satu anak yang sangat lucu. Ternyata capek juga menggendong anak, padahal baru 10 menit, hehehe.

Selama saya menggendong anak tersebut, Nadia bercerita bahwa yayasan ini menampung anak yang maaf, “tak diinginkan” orang tua mereka. Berbagai kisah yang sangat-sangat sedih di dunia ini sudah bersama mereka sejak mereka lahir. Sungguh kasian mereka, air mata saya hampir jatuh saat saya menatap muka anak yang saya gendong dalam-dalam (ini jujur). Nadia menambahkan, bukan kisah mereka saja yang sedih, namun ada beberapa anak yang membutuhkan perhatian lebih karena kekurangan yang ada di tubuh mereka. Mungkin kalian dapat membaca “TERIMA KASIH” yang sudah saya posting. Itu berasal dari mereka, anak-anak yang tak berdosa ini.

Entah mengapa, anak yang saya gendong begitu ingin turun, saya tak tahu, karena saya kurang begitu pengalaman dengan hal-hal seperti ini. Saat saya sedang asik-asiknya menggendong dan sang anak asik meronta, ada salah satu anak yang ingin mencuri perhatian saya dengan menjatuhkan sendok yang sedang dia bawa, namanya Wisnu.

“Pak, atuh. Atuh. Atuh ”, ucapnya dengan nada suara anak kecil yang lucu.

Saya pun menoleh dan mengambil sendok Wisnu yang jatuh. Saat kepala saya berpaling, lagi-lagi sendoknya dijatuhkan. Hal tersebut terjadi berulang kali hingga saya menghampirinya. Anak yang saya gendong masih saja meronta-ronta ingin turun. Saya pun duduk di lantai sembari mengajak Wisnu berbicara dan anak tersbut hilang dari pelukan saya. Saya sadar, ternyata anak tersebut ingin berdiri dan berjalan. Saat saya sedang memperhatikan anak yang saya gendong tadi, tiba-tiba Wisnu berkata,

“Pak, tuyun. Tuyun ”, sembari mengangkat tangannya ingin minta digendong.

Akhirnya saya menggendong kembali anak yang tadi saya gendong (saya belum bisa mengurus dua anak sekaligus, maaf) dengan Wisnu yang sudah menagis minta turun. Akhirnya saya mengembalikan anak itu ke kasurnya dengan di akhiri tangisan sang anak. Sungguh miris hati saya. Saya pun menggendong Wisnu dan membawanya keluar. Rona bahagia terpancar di wajahnya, ia pun ingin turun dan saya turunkan. Saat kakinya menyentuh lantai, Wisnu langsung berjalan sesuka hati. Saya pun duduk di salah satu kursi sembari mengamati Wisnu dan pikiran saya melayang jauh. Sore itu, entah mengapa hati saya teriris dan sedih. Saya hanya bisa diam seribu bahasa. Seperti patung yang mengharapkan dapat bergerak, mungkin.

Anak-anak itu terlihat bahagia walaupun saya tak tahu apa yang ada di hati mereka saat banyak orang silih berganti menggendong mereka. Mungkin mereka tak tahu apa itu kasih sayang orang tua, mungkin mereka tak kan pernah mengenal hal itu. Cinta dan kasih sayang dari orang yang harusnya memberikan hal itu *air mata udah jatuh*, namun saya tahu, mereka adalah anak-anak yang paling hebat, paling kuat dan paling tegar di dunia. Mereka akan menjadi orang hebat!. Saya berharap!.

Marilah kita, sebagai orang yang hendak dan dewasa, untuk jangan memikirkan dan melakukan free sex! Karena, menurut saya, hasil dari perbuatan tersebut, selain dosa juga melahirkan sebuah nyawa baru di dunia ini, yaitu anak. Janganlah kita hanya ingin enaknya, namun juga memikirkan akibatnya. Anak-anak ini sungguh tak berdosa, jangan kita sia-siakan sebuah permata yang mata indah, anak, yang dititipkan Tuhan kepada kita. Beri mereka cinta dan kasih sayang yang abadi dan tulus.

Tuhan, mengapa di dunia ini banyak sekali sebutan untuk anak yang negatif?. Seperti “anak haram”, “anak durhaka”, “anak nakal”, “anak yang tak diinginkan” dan sebutan “anak-anak” lainnya?. Kenapa tidak ada “orang tua durhaka”, “orang tua haram”, dan “orang tua-orang tua” lainnya?. Adil kah ini?. Padahal anak tak mengaharapkan kehidupan dan tak menginginkan keadaan dan mungkin tak akan pernah mampu meminta untuk mengubah kehidupan dan keadaan. Mengapa Tuhan? Mengapa?

Terima kasih sudah menunjukkan tempat yang istimewa, Teman.

 

Yogyakarta, 8 Mei 2014



Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments:

Fajar said...

ketika di mata air tidak ada air mata.. by Iwan Fals

cipta swastika said...

hahaha.. gimana om?