Hei,
saya kembali lagi nih, hehe. Mau meneruskan “Catatan Di Surabaya” yang sudah
saya buat jauh-jauh hari kemarin *jauh-jauh
hari apamu? Udah lama bangeeett!*. Yep, gak
usah pake fafifu, langsung aja.
Stasiun Surabaya Gubeng, Surabaya, 15:02
|
Narsis dulu lah |
Hari ini hari Senin. Waktunya untuk kembali ke
kota tercinta, Jogja!, yey! Naik Kereta
Api Sancaka Sore *baru pertama kali naik
kereta eksekutif nih* yang rencananya berangkat jam 15:45 WIB. Saya sudah
berada di Stasiun Surabaya Gubeng sembari menikmati segelas kopi hasil beli di
minimarket yang ada di stasiun. Di smoking
area yang terletak di pojok stasiun, saya berusaha untuk menuliskan kegiatan
saya hari yang spertinya datar-datar saja.
Hari ini, saya tetap bangun jam 11:00 WIB, siang banget kan?. Setelah bangun, langsung
saja saya buka laptop saudara saya karena ada ujian menjadi artis via email! Wow!.
Bukan ding, ujian menjadi asisten
yang benar *ini otak lari-lari kemana ya?*,
tapi, astaganaga, naga udah bisa
melahirkan, email berisi soal-soal ujian belum juga dikirim! Dalam hati saya misuh-misuh *pippp*. Karena tak tahu harus bagaimana, saya langsung mematikan
laptop dan bertemu kakek saya. Sebenarnya, beliau adalah saudara jauh. Kata tante
saya, kakek berada di ruang kerjanya. Saya menemui kakek saya dan berbincang
panjang lebar. Setelah puas mencurahkan rindu yang membekap di dada, kakek saya
mengajak mencari oleh-oleh khas Surabaya. dengan mobil Katana yang wow sekali,
kami menyusuri jalan-jalan di Surabaya dengan dengan kecepatan santai, *tepatnya sih kayak siput*. Setelah harap-harap
cemas dengan model berkendara kakek saya yang “santai” karena waktu yang sudah
mepet, akhirnya kami samapai di toko oleh-oleh yang bernama “Panen Raya”. Hujan
rintik-rintik mengguyur Surabaya dan menyebabkan saya harus berlari dari
parkiran ke toko. Setelah selamat dari serangan hujan dan sampai di toko, kami
langsung mencari oleh-oleh dan saya tertarik akan oleh-oleh bernama “Lorjuk”!
yes, nama yang menarik bagi saya, setelah saya lihat ternyata penampilannya
semenarik namanya. Jujur saja, penampilannya kurang menarik, namun rasanya itu
nikmat sekali! Kalian harus coba “Lorjuk”, tambah enak kalau dimakan bersama
nasi hangat dan sambal!. Setelah puas berbelanja, kami kembali ke rumah dengan
kecepatan “santai” dan berbincang mengenai pertanian negra ini yang amburadul *haduh kek, keburu telat nih*.
|
Ikan Piranha |
Akhirnya sampai dengan selamat di rumah tante saya.
Oiya, rumah tante saya itu seperti
akuarium, karena banyak sekali akuarium berisi ikan-ikan yang lucu mulai dari
ikan hias sampai ikan ganas, seperti Ikan Aligator dan Ikan Piranha.
|
Ikan Aligator |
|
Kerajaan Akuarium |
Katanya tante
sih untuik menghilangkan stress dan
ternyata benar, saya melihat ikan-ikan tersebut, stress saya hilang. Selain ikan, juga ada kura-kura yang enggak
kalah lucunya.
|
Kura-kura
|
Ada 2 kura-kura yang menarik perhatian saya, karena mereka
malu-malu kucing dan lama kelamaan seperti hendak memakan saya, oh tidak!. Setiap malam, saya selalu
bermain bersama kedua kura-kura tersebut. Setelah mengucapkan selamat tinggal
kepada kedua kura-kura itu dan kakek saya tentunya, saya menelfon taksi *saya menyerah, karena tetap tidak tahu harus
naik bis kota yang mana*.
Selang beberapa menit, taksi yang ditunggu pun datang.
Selama di perjalanan pak sopir taksi, sebut saja Pak Sopir, mengajak saya
berbincang dengan Bahasa Jawa Timuran yang tak semuanya saya mengerti, tapi
yang saya tahu, Bahasa Jawa orang Surabaya termasuk Bahasa Jawa kasar dengan
tambahan “Cuk”. Bagi saya termasuk kasar, karena tahu sendiri kan, orang Jogja
itu Bahasa Jawanya halus. Awalnya, Pak Sopir bersikap profesional dan bertanya
menggunakan Bahasa Indonesia. Namun karena saya menjawab dengan bahasa yang medok, Pak Sopir tahu kalau saya Orang
Jawa dan terjadilah percakapan menggunakan Bahasa Jawa Timuran dan saya
menikmati percakapan tersebut karena mendapat beberapa informasi dan ilmu yang
penting dari Pak Sopir.
|
Dari pojokan Stasiun |
|
Smoking Area |
Akhirnya saya sampai di Stasiun Surabaya Gubeng
yang pelayanannya sungguh memuaskan. Saya menyiapkan bukti pembayaran dan resi
untuk ditukarkan dengan tiket dan mengantri di loket. Tiba-tiba ada satpam yang
menegur saya.
“Mas, Mau menukarkan tiket ya?”
“Iya, Pak”
“Mas salah loket, karena disini loket pembelian
tiket. Kalau mau menukarkan tiket yang dibeli secara online, loket disebelah
sana”, kata pak satpam sembari menunjukkan loket yang dimaksud.
Saya hanya bisa tersenyum dan berkata terima
kasih kepada pak satpam tersebut. Saya langsung menuju loket tersebut dan
menukarkan bukti pembayaran dengan tiket tanpa antri.
Kereta Api Sancaka Sore, 17:57 WIB
|
KA Sancaka Sore (praminya cantik) |
Saya sudah dalam perjalanan pulang ditemani film
antah berantah yang menurut saya jelek. Pelayanan di kereta ini sangat bagus
dengan kursi yang menurut saya nyaman dan ergonomis, AC yang dingin, kru KA
yang ramah dan prami-prami yang memanjakan mata, hehe. Tak banyak yang dapat
saya ceritakan selama perjalanan pulang, karena saya terhibur atas pelayanan
yang diberikan. Salut untuk PT KAI yang sudah berbenah. Satu yang pasti,
sekarang tidak bisa merokok di kereta. Kalau mau merokok, harus keluar dari
kereta, contohnya bila kereta berhenti di stasiun atau saat kereta bersilang. Ada
sedikit cerita, saat kereta berhneti di Stasiun Solobalapan, saya keluar untuk
merokok, namun baru 2 kali hisapan, ada pemberitahuan bahwa kereta akan
berangkat, langsung saja saya matikan rokok dan membuangnya! Ya, saya membuang
rokok yang masih panjang tersebut! *sungguh
sial, eman-eman*. Fasilitasnya nih di foto bawah ini:
|
Tontonan gratis (film yang gak mutu) |
|
Kursi yang nyaman |
|
Interior |
|
Tivi |
|
Pemberitahuan |
|
Tiket |
Setelah di Surabaya selama 4 hari, saya
mendapatkan pengalaman dan ilmu yang berharaga. Salah satunya adalah mengenai
merokok. Saya mendapatkan pelajaran bahwa jangan merokok di sembarang tempat
dan saya masih memegang teguh pelajaran tersebut. Saya merasa tak enak kepada
wanita dan anak-anak bila saya merokok di sembarang tempat. Bila saya berada si
fasilitas umum atau café, saya selalu bertanya “Ada smoking room?” atau “Apakah disini bebas merokok?”. Selain itu,
saya mengetahiu bahwa sebenarnya orang Surabaya itu ramah, berita yang
mengatakan bahwa orang Surabaya itu “kasar” itu salah dan supporter sepak bola yang menamai diri mereka “BONEK” tidak
se-negatif yang diberitakan, contohnya Pak Sopir tadi, dia mengaku pendukung
PERSEBAYA dan dia orang yang bersahabat. Saya mencintai Kota Surabaya dan seperti
kota kedua bagi saya, karena orang-orang yang ramah, fasilitas yang bagus dan
tentunya banyak kenangan di kota ini J
Parade foto:
|
Es Putri Ayu |
|
Sop iga |
|
Pintu masuk Jembatan Suramadu |
|
Jembatan Suramadu |
|
Satu keluarga |
|
Madura |
Bila
ada waktu, saya ingin kembali lagi ke kota ini, menikmati suasana yang
menyenagkan dan kenangan-kenangan yang ada, salah satunya kenangan akan dirimu.
0 comments:
Post a Comment