INTRODUCTION : PERJALANAN KE TIMUR MEMPERDALAM BAHASA INGGRIS

2 comments
Tanggal 25 Mei 2016 pukul 01:00 WIB dengan bermodalkan baju seadanya di tas carrier 80 liter hasil pinjaman teman yang sudah satu tahun lebih belum juga saya kembalikan, kaki ini tiba di salah satu stasiun terbesar di Yogyakarta, Stasiun Tugu Yogyakarta untuk pergi pergi ke Pare, Kediri. Kalian tahu kan di pare banyak sekali lembaga kursus bahasa inggris disana? Katanya sih tumpah ruah, tapi ya saya kurang tahu. Namun karena namanya modal nekat, lembaga kursus di Pare dan tiket kereta api ke Kediri juga belum saya dapatkan. Langsung saja saya masuk ke pintu timur stasiun yang sepi sekali dan hanya ada satu loket tiket yang masih buka, loket tiket go show. Malam itu Stasiun Tugu seperti stasiun mati, hanya ada beberapa orang yang masih terbangun. Langsung dah tanya mas – mas yang ada di loket ada kereta tujuan Kediri ada apa saja.

Yap, dengan berbagai pertimbangan yang matang karena saya ingin tidur pulas, akhirnya terpilihlah tiket kereta api Gajayana seharga Rp150.000 WIB yang akan berangkat pukul 02:00 WIB. Mahal juga sih harganya untuk relasi Yogyakarta – Kediri, tapi yah untuk tidur nyaman juga tidak apa – apa karena paginya saya harus bersafari di Kediri. Dan eng – ing – eng, keretanya telat 30 menit lebih!! Terpaksa lah saya menunggu lebih lama di stasiun. Skip.... Skip, pukul 06:30 WIB saya tiba di Stasiun Kediri dan hampir kelewatan karena saya tidur pulas sekali di kereta. Oya, pemandangan sunrise dari dalam kereta bagus juga lho.
Interior Kereta Api Gajayana. Yah, Standar Eksekutif Sih.
Keluar dari Satsiun Kediri banyak sekali tukang becak yang menawarkan jasanya untuk mengantar ke halte bus yang akan ke Pare/Surabaya atau para tukang ojek yang bersedia mengantar langsung ke Pare. Namanya juga baru bangun tidur, penawaran mereka tidak saya gubris dan yang ada pikiran hanya ingin udud, hehehe. Tapi ada satu bapak yang  setia menunggu saya selesai udud. Yuhu, karena sebelumnya saya searching harga untuk jasa mereka, yang sekitar Rp7.000 – Rp20.000, saya melakukan tawar – menawar dengan bapak yang setia menunggu tadi.
Stasiun Kediri. Masih Ada Jam Antiknya.


Saya (S) : Pak, sampe halte bus yang ke Pare berapa?
Bapak Tukang Becak (BTB) : rong puluh ewu ae mas. (dua puluh ribu, Mas)
S : Wah, larang Pak. (Wah, mahal Pak) *iseng – iseng buka Google Maps dan cari route dari Stasiun Kediri sampai ke Halte Bus ternyata dekat juga kalau jalan kaki*. Yowes Pak, tak mlaku ae.
BTB : Wah, adoh lho mas, mending karo aku ae. (Wah, jauh lho Mas, mending sama saya saja)
S : Ora pak. (Enggak Pak)

Maaf ya pak, bukan karena tidak ingin membagi rezeki saya ke bapak, tapi saya lebih ingin berhemat karena uang saya amat sangat nge-pres.

Akhirnya saya memutuskan jalan kaki menyusuri jalanan Kediri yang masih asing buat saya. Dari Stasiun Kediri lurus saja ke arah timur hingga bertemu pertigaan Jalan Dhoho. Jalan Dhoho itu jalan one way. Dari pertigaan belok kanan menuju utara menyusuri Jalan Dhoho. Disepanjang Jalan Dhoho kalau pagi hari banyak warung kaki lima yang menujual sarapan mulai dari nasi pecel Kediri hingga gudeg Yogya. Gudeg Yogya broo!! Percuma sampai Kediri kalau Cuma makan gudeng Yogya! Hehehe. Oya, Jalan Dhoho itu jalan yang nyaman sekali untuk pejalan kaki karena jarang ada penjual kaki lima dan trotoar yang lebar, di tambah lagi banyak pepohonan dan tumbuhan – tumbuhan penghias jalan. Jalan terus saja ke utara hingga bertemu perempatan lampu merah. Dari lampu merah, lurus saja ke utara hingga bertemu perempatan lampu merah lagi. Nah, di lampu merah kedua lihatlah sekeliling, nanti di utara jalan ada halte dengan orang kurus berambut panjang ikal sebahu, maka di situlah halte untuk menyegat bus atau angkot. Halte tersebut berada di Jalan Hasanudin.

Selfie Dulu...
Dari halte di Jalan Hasanudin ini bisa ke Pare dengan menggunakan angkot atau Bus. Disini ada 2 jenis bus, yaitu bus patas Jurusan Blitar -  Surabaya dan bus ekonomi Jurusan Kediri – Malang. Semua bus melewati Pare. Untuk angkot, biasanya mereka meminta harga sekitar Rp10.000 dan bila bawaanmu banyak, mereka meminta biaya tambahan. Total menggunakan angkot bisa mencapai Rp20.000. Untuk bus patas Jurusan Blitar – Surabaya, tiketnya seharga Rp20.000 untuk sampai Pare. Nah, kalau yang paling murah itu naik bus ekonomi Jurusan Kediri – Malang karena dengan Rp5.000 – Rp 8.000 sudah bisa sampai pare.

Dengan banyaknya pilihan ke Pare dari Kota Kediri dan badan yang sudah letih, saya bingung memilih angkutan yang mana. Si mas kurus berambut ikal yang sepertinya penghuni halte bus Jalan Hasanudin selalu bertanya mau kemana dan menyakinkan saya untuk naik bus dan tidak memilih angkot karena mahal. 30 menit menunggu bus yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya, akhirnya muncullah hidung si angkot petaka. Kenapa angkot petaka? Karena nanti kalian tahu sendiri. Supir angkot keluar dan terjadilah tawar – menawar.

Supir Angkot Petaka (SAP) : Mas, mau kemana? Pare ? atau Gontor 5?
Saya (S) : *dengan muka polos* Pare, Pak. Berapa?
SAP : Ayo ikut saya aja, mau ke lembaga mana? *menyebutkan beberapa lembaga*.
S : Enggak tau Pak, masih bingung. Kayaknya ke Jalan Brawijaya aja deh Pak. Berapa?
SAP : lima belas ribu saya anter sampai lembaganya mas.
S: Wah, larang pak. Sepuluh ewu ae oleh ra? (Wah, mahal pak. Sepuluh ribu aja boleh nggak?)
SAP : Sepuluh ewu tekan Jalan Brawijaya, Mas. (Sepuluh ribu sampai Jalan Brawijaya, Mas)
S : Walah, yowes pak. (Walah, yaudah Pak)

Skip, akhirnya saya naik itu angkot petaka. Sekitar satu jam perjalanan dari Kota Kediri menuju Pare. Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan yang ada dan takjub dengan salah satu landmark Kota Kediri, Gumul! Arsitekturnya seperti Arc de Triomphe di Kota Paris yang jauh disono. Sudah dua kali saya melihat Gumul, tapi masih saja terkagum dan memandangi relief yang ada di Gumul. Selain menikmati pemandangan, saya juga rajin melihat Google Maps. Maklum,  saya selalu penasaran dengan daerah baru. Sekitar satu jam, akhirnya sampai juga di Pare.

SAP : Mas, wes tekan. Kae Jalan Brawijaya. (Mas, udah sampai. Itu Jalan Brawijaya) *sambil menunjuk jalan di seberang jalan*.
S : Wooo yo Pak, sek. (Oke Pak, bentar)

Gumul Di Kediri
sumber : Google

Arc de Triomphe Di Paris
sumber : Google
Hampir sama kan Gumul sama Arc de Triomphe?

Saya keluar dan turun di pertigaan yang saya tidak tau namanya sambil menyeraahkan uang lima ribuan dua ke bapak itu. Setelah saya membayar dan...... Eng – ing – eng, si angkot petaka berbelok menuju Jalan Brawijaya. Xian Ying!!!!! Saya di turunkan di ujung Jalan Brawijaya dan si angkot petaka dengan entengnya berasap ria menyusuri Jalan Brawijaya. Xian ying!! Jancuuukkkkk itu supir! Dengan terpaksa saya menyusuri Jalan Brawijaya menuju salah satu lembaga kursus yang ada di Jalan Brawijaya, Global English, dengan harap – harap cemas kuota di tempat kursus itu belum penuh.


Yuhuuu, sudah capek saya menulis. Sepertinya saya cukupkan sekian, dilanjut besok yak. Oya, hanya dalam waktu kurang dari 2 jam, saya sudah mendapatkan 2 teman di Pare. Mau tau certitanya? * heh, enggak mau? Yasudah* Ditunggu yak. See ya, bad ass!!!
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments:

ARDHIKA ULFAH said...

Dit, spasinya digedein coba, rengket-rengket banget untuk ukuran blog (teoriku dewe) hahaha. Nek tulisan e sih oke oke saja. Setelan blognya aja yg perlu dibikin lebih ramah pembaca (simpel, gampang dinavigasiin, ukuran dan warna tulisan enak dilihat).

Semangat produktif dit!

cipta swastika said...

WUihhhiiii. Oke kakak :)))

Sekarang Templetku udah tak ganti kok. Berkunjung lagi ya :))

Semangat produktif Pah!